greenlumut | hijau bumiku – lestari alamku…

APA ITU TANAMAN OBAT

Posted by greenlumut on April 21, 2008

Tanaman Obat adalah Obat Tradisional Indonesia yang sudah cukup dikenal sejak masa prasejarah sampai masa sejarah yang ditandai prasasti batu bertulis kerajaan Kutai Kertanegara pada abad ke 5, Kejayaan Sriwijaya, kejayaan Majapahit sampai dengan masa kesultanan Mataram dan dilanjutkan dnegan masa penjajahan oleh VOC, obat kita adalah Tanaman Obat. Penggunaan Tanaman Obat itu dengan Nenek Moyang kita telah membawa kesejahteraan dan kejayaan selama berabad-abad yang ditandai dengan peninggalan sejarah seperti Borobudur Prambanan, keraton-keraton dan sistem transportasi diselurh jawa dan pulau-pulau lain. Perubahan terjadi baru pada abad 20 ketika itu berdiri Sekolah Dokter Jawa yang bernama STOVIA tahun 1904 di Batavia oleh Pemerintah Hindia Belanda. Sejak itulah kita mulai belajar tentang obat-obatan modern, obat-obatan barat dengan pendekatan kimiawi.

Adopsi pengobatan modern kedalam sistem pengobatan masyarakat terjadi bukan karena permintaan masyarakat pribumi tetapi karena kebutuhan penduduk Belanda yang membutuhkan tenaga dokter. Sedangkan pada saat itu kita masyarakat pribumi memiliki sistem pengobatan sendiri yang sudah mencukupi, sama halnya dnegan masyarakat Tiong Hoa setempat yang sudah juga memiliki penyembuhan sendiri.

Pada saat itu masyarkat kita yang terdidik sangat tertarik sekali dengan sesuatu yang bersifat modern, maka segala sesuatu yang modern cendrung diadopsi dan hal-hal yang bersifat tradisional cendrung ditinggalkan. Cara berpakaian kita cendrung berubah dari “surjan” cendrung kekemeja, setelan Jas, Tulisan kita berubah dari hanacaraka menjadi huruf lain, tetapi lebih dari itu “bothekan, pipisan dan lumpang” kita pun mulai ditinggalkan dan beralih keobat-obatan modern. Semua resep-resep nenek moyang kita dibuang dan diganti dengahn nasehat dokter yang berkualitas medis tekhnis. Meskipun kita bersyukur nasi rawon, gudeg, pecel rendang, bajigur, wedang ronde tidak diganti sepenuhnya dengan hot-dog, pizza, dan coca-cola serta joghurt.

Adopsi dibidang obat modern sungguh tidak terbatas sehingga bothekan telah terbuang entah kemana. Motto Modern yang berkembang saat itu adalah : “Orang yang sudah makan sekolahan tidak pantas lagi untuk minum jamu”. Obat herbal dianggap kuno, ketinggalan Jaman, berbahaya, tidak higienis. Akibatnya obat herbal ditinggalkan sedemikian jauh sampai hampir-hampir tidak dikenal lagi ! Terbukti banyak ibu-ibu sekarang sudah tidak kenal lagi dengan Sambiloto, Tempuyung, Pegagan, dll.

Perhatian Besar sudah mulai berkembang pada dekade terakhir abad ke 20 yaitu semangat “back to nature” dari dunia barat merasuki pola fikir negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Pada perkembangan ini masyarakat mulai sadar bahwa obat modern yang pada umumnya obat kimia itu memiliki kelemahan-kelemahan yang signifikan sementara pada sisi lain terdapat kelebihan-kelebihan obat herbal.

Jika karena Tanaman Obat dianggap kuno, tidak ilmiah, tidak higienis, dan berbahaya tetapi sekarang kenapa kita mulai memperhatikan tanaman obat ? Bahkan negara maju sendiri mempelopori gerakkan-gerakan back to nature !” Gerakkan ini dulakukan didasari karena kelemahan obat kimia itu sendiri yang bersifat kimia sintetis. Kelemahan yang paling utama dirasakan adalah efek samping dari obat kimia itu sendiri. Efek obat kimia itu sendiri bahkan sudah diketahui efek sampingnya dan terncantum dalam label atau brosur dan menjadi perhatian oleh dokter dan apoteker itu sendiri.

Secara logis obat kimia berefek samping karena merupakan zat tunggal atau gabungan zat tunggal yang murni karena pengertian dari obat konvensional adalah obat kimia tertentu yang digunakan dalam proses pengobatan. Zat kimia murni tentu tidak cocok dengan tubuh yang kompleks regulasi reaksi-reaksi kimia tertentu. Obat yang murni ini cendrung memodifikasi reaksi-reaksi yang ada untuk mencapai tujuan pengobatan, tetapi sering terjadi modifikasi-modifikasi yang menyimpang atau berlebihan. Hal inilah yang menimbulkan efek samping. Efek samping jangka pendek tidaklah terlalu menakutkan karena dapat segera dikurangi atau dihindari, tetapi efek samping jangka panjang seperti kerusakkan ginjal, kerusakkan liver, lemah syahwat, dan berbagai tumor memang sangat menakutkan dan biasanya tidak reversible (tidak bisa balik). Begitu pula masalah efektifitas pengobatan modern telah dikembangkan dengan sarana penelitian yang luar biasa (bahkan tidak terbatas) dengan lembaga-lembaga pendidikan yang maha besar dan termaju didunia dibanding bidang-bidang lain dan dilayani oleh orang-orang terpandai didunia. Bayangkan anak-anak kita hampir semua bercita-cita menjadi seorang dokter !” Tapi tidak sanggup mengatasi penyakit-penyakit sehari-hari seperti: Influenza, hipertensi, diabetes, hepatitis, colitis dll. Tetapi dengan bangga para peneliti guru besar dan dokter mengatakan “belum ditemukan obatnya. Belum diketahui penyebabnya. Harus minum obat seumur hidup. Tidak ada obat yang ampuh dan cukup aman, Stadiumnya sudah lanjut, Tidak bisa lagi diobati. Pernyataan-pernyataan itu dikatakan dengan bukan rasa sesal dan maaf serta bukan dnegan sikap rendah hati, tetapi sering dengan rasa bangga. Kemudian ini yang sering membuat pasien kecewa dan tertegun, “Apakah tidak ada alternatif lain ?” Akhirnya pasien mulai berfikir “Bukankah Tuhan Menciptakan Manusia juga menyiapkan obatnya ?” Bukan kah Tuhan jauh lebih Bijaksana ?”

Demikan pula dengan mahalnya harga obat kimia. Hal ini terjadi karena 82% bahan baku obat dan sarana pendukung pembuat obat diperoleh dengan Import. Sementara pendapatan kita diperoleh dengan susah payah diperoleh dalam rupiah, kita harus membayar obat yang bernilai dollar. Akibatnya harga obat tidak terjangkau oleh sebagian besar masyarakat kita. Untuk sementara ditanggulangi dengan subsidi yang diberikan melalui Puskesmas, dan Rumah sakit seta keringanan Pajak. Itupun masih banyak harga obat kita rasakan sangat mahal.

Kalau kita coba kembali pada kehebatan kekayaan alam bangsa ini terutama kekayaan alamnya dalam hal ini adalah Tanaman Obat, yang referensi jenisnya terkaya nomor 2 didunia setelah negara Brazil, maka perlu dikaji ulang pemanfaatannya yang sangat efektif dan relatif aman ini. Tanaman obat memiliki kelebihan tertentu dibanding obat modern. Tentu efek sampingnya yang snagat kecil. Secara formal berdasarkan pengujian toksisitas akut LD tanaman obat memang umumnya tidak toksik, tetapi karena perbedaan individual bisa jadi orang-orang tertentu alergi terhadap tanaman obat tertentu meskipun masih pada dosis aman. Selain itu toksisitas jangka panjang memang banyak yang masih belum jelas, oleh karena itu untuk tanaman obat yang tidak biasa digunakan sebagai makanan sebaiknya digunakan pada waktu sakit saja,sesudah sembuh dihentikan. Dari pengalaman belasan tahun, ternyata efek samping tanaman obat pada dosis normal memang tidak ada, kecuali pada orang-orang tertentu yang alergi.

Banyak orang mengasosiasikan tidak adanya efek samping ini dengan tidak adanya efektivitas. Mereka ragu jika tidak ada efek samping apakah berarti memang tidak ada efektivitasnya? Pola pikir ini keliru di dua hal. Pertama efektivitas obat herbal terjadi bukan oleh satu zat aktif tetapi oleh resultan efek dari zat-zat aktif dan non aktif, atau bahkan resultan zat-zat yang seluruhnya bukan zat aktif. Sementara efek samping pada obat kimia terjadi karena satu zat aktif yang memodifikasi fungsi tertentu dalam tubuh. Modifikasi fungsi yang tidak dikehendaki atau berlebih itulah yang menciptakan efek samping. Kedua, tiadanya efek samping dari obat herbal adalah karena banyaknya zat yang terkandung dalam satu tanaman, sehingga setiap zat itu konsentrasinya relatif kecil atau dosisnya relatif kecil. Berdasarkan prinsip paracelsus; dosis sola fecit venenum, atau dosislah yang menentukan sesuatu menjadi racun, karena dosis setiap zat dalam tanaman obat relatif kecil maka tidak toksik.

Kelebihan tanaman obat berikunya adalah harga yang relatif murah. Bisa menjadi sangat murah jika bisa menanam atau mencari sendiri di kebun-kebun. Tetapi jika harus diperoleh dalam bentuk simplisia tentu jadi lebih mahal. Tentu akan menjadi lebih mahal, jika sudah diolah, tetapi umumnya tetap lebih murah jika dilihat efektifitasnya.

Selanjutnya sifat tanaman obat yang aman ini menyebabkan dalam penggunaannya tidak dibutuhkan pengawasan yang ketat sehingga sering pengobatannya tidak dibutuhkan pengawasan yang ketat dan tidak dibutuhkan bantuan tenaga medis atau para medis, tetapi cukup oleh anggota keluarga sendiri jika diagnosa sudah jelas.

Dari uraian pemahaman kita bersama tentang aman serta efektifnya penggunaan Tanaman Obat sebagai obat diatas, untuk itu adalah sesat jika “secara filosofis” jika kita berfikir “Ketika Tuhan menciptakan manusia, Tuhan telah menciptakan tempat hidup dan makanannya, tetapi Tuhan lupa jika menciptakan obatnya, untuk menanggulangi kalau manusia sakit” Pola fikir ini menyebabkan orang menunggu-nunggu hasil penelitian karena difikir penelitian farmokologlah yang akan akan menciptakan Obat !”. Obat-obatan alam tidak dipercayai, tetapi obat-obatan yang berlandaskan teori ilmiah dipercayai dan tidak terbantah.

Teori tentang Patologi penyakit dan tentang mekanisme kerja obat lebih menarik daripada kenyataan bahwa pasien sembuh sehat wal a’fiat. Untuk itu kita harus terus belajar tentang kehebatan Obat dari Allah yakni Obat alam agar pasien semakin merasakan keampuhan obat-obatan alamiah ini dan mensyukuri keagungan Allah.

(bioviolet.com)

Posted in Herbal | Tagged: | Leave a Comment »

Penangkaran Tumbuhan dan Satwa Liar

Posted by greenlumut on April 16, 2008

Pengertian
Penangkaran adalah upaya perbanyakan melalui pengembangbiakan dan pembesaran tumbuhan dan satwa liar dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya. Penangkaran tumbuhan dan satwa liar berbentuk :

  1. Pengembangbiakan satwa,
  2. Pembesaran satwa, yang merupakan pembesaran anakan dari telur yang diambil dari habitat alam yang ditetaskan di dalam lingkungan terkontrol dan atau dari anakan yang diambil dari alam (ranching/rearing),
  3. Perbanyakan tumbuhan secara buatan dalam kondisi yang terkontrol (artificial propagation).

Pengembangbiakan satwa adalah kegiatan penangkaran berupa perbanyakan individu melalui cara reproduksi kawin (sexual) maupun tidak kawin (asexual) dalam lingkungan buatan dan atau semi alami serta terkontrol dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya. Pembesaran satwa adalah kegiatan penangkaran yang dilakukan dengan pemeliharaan dan pembesaran anakan atau penetasan telur satwa liar dari alam dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya. Perbanyakan tumbuhan (artificial propagation) adalah kegiatan penangkaran yang dilakukan dengan cara memperbanyak dan menumbuhkan tumbuhan di dalam kondisi yang terkontrol dari material seperti biji, potongan (stek), pemencaran rumput, kultur jaringan, dan spora dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya.

Tujuan Penangkaran
Tujuan penangkaran adalah untuk :

  1. Mendapatkan spesimen tumbuhan dan satwa liar dalam jumlah, mutu, kemurnian jenis dan keanekaragaman genetik yang terjamin, untuk kepentingan pemanfaatan sehingga mengurangi tekanan langsung terhadap populasi alam,
  2. Mendapatkan kepastian secara administratif maupun secara fisik bahwa pemanfaatan spesimen tumbuhan atau satwa liar yang dinyatakan berasal dari kegiatan penangkaran adalah benar-benar berasal dari kegiatan penangkaran.

Ruang Lingkup
Ruang lingkup pengaturan penangkaran tumbuhan dan satwa liar mencakup ketentuan-ketentuan mengenai kegiatan penangkaran, administrasi penangkaran dan pengendalian pemanfaatan hasil penangkaran tumbuhan dan satwa liar baik jenis yang dilindungi maupun yang tidak dilindungi, kecuali jenis :

  • ANOA
  • BABI RUSA
  • BADAK JAWA
  • BADAK SUMATERA
  • BIAWAK KOMODO
  • CENDERAWASIH
  • ELANG JAWA, GARUDA
  • HARIMAU SUMATERA
  • LUTUNG MENTAWAI
  • ORANG UTAN
  • OWA JAWA
  • TUMBUHAN JENIS RAFLESIA

Pengadaan Induk dan Legalitas Asal Induk
Induk satwa untuk keperluan penangkaran, dapat diperoleh dari :

  • Penangkapan satwa dari alam,
  • Sumber-sumber lain yang sah meliputi : hasil penangkaran, Luar Negeri, rampasan, penyerahan dari masyarakat, temuan dan dari Lembaga Konservasi.

Pengadaan induk penangkaran :

  1. Pengadaan induk dari penangkapan dari alam, diatur dengan Peraturan Menteri Kehutanan.
  2. Pengadaan induk dari hasil penangkaran :
    1. Pengadaan induk penangkaran dari hasil penangkaran generasi pertama (F1) untuk jenis yang dilindungi dan atau termasuk Appendix I CITES dilakukan dengan izin dari Menteri Kehutanan.
    2. Untuk generasi kedua (F2) dan generasi berikutnya untuk jenis yang dilindungi dan atau termasuk Appendix I CITES, dilakukan dengan izin dari Direktur Jenderal PHKA.
    3. Untuk jenis yang tidak dilindungi dan atau termasuk Appendix II, III dan atau Non Appendix CITES, dilakukan dengan izin Kepala Balai KSDA.
  3. Pengadaan induk penangkaran dari luar negeri :
    1. Pengadaan induk penangkaran dari luar negeri wajib dilengkapi dengan Surat Angkut Tumbuhan dan Satwa Liar Luar Negeri (SATS-LN Impor) dan bagi jenis yang termasuk dalam Appendix CITES, SATS-LN Ekspor dari negara pengekspor.
    2. Induk penangkaran yang berasal dari luar negeri dan yang termasuk dalam Appendix I CITES harus berasal dari unit usaha penangkaran di luar negeri yang telah terdaftar pada Skretariat CITES sebagai penangkar jenis Appendix I CITES untuk kepentingan komersial.
  4. Pengadaan induk penangkaran yang berasal dari hasil rampasan, penyerahan dari masyarakat atau temuan, hanya dapat dilakukan bagi spesimen yang telah ditempatkan dan diseleksi di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) dan atau di tempat penampungan Balai KSDA.

Induk penangkaran tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi yang berasal dari habitat alam(W) dinyatakan sebagai milik negara dan merupakan titipan negara. Induk penangkaran satwa liar generasi pertama (F1) hasil penangkaran jenis satwa liar yang dilindungi dinyatakan sebagai milik negara dan merupakan titipan negara. Spesimen induk satwa liar yang dilindungi yang berasal dari habitat alam, dan atau hasil penangkaran generasi pertama (F1) satwa liar yang dilindungi, tidak dapat diperjualbelikan dan wajib diserahkan kepada negara apabila sewaktu-waktu diperlukan.

Pelaksanaan Penangkaran
Dalam rangka menjamin kemudahan kontrol hasil penangkaran, maka setiap anakan harus dipisahkan dari induk-induknya. Pemisahan anakan dari induk harus dapat dilakukan untuk membedakan antar generasi dimana generasi pertama (F1) harus dapat dibedakan dengan generasi-generasi berikutnya. Dalam rangka menjaga kemurnian jenis satwa liar, unit penangkaran dilarang melakukan pengembangbiakan silang (hibrida) baik antar jenis maupun antar anak jenis, bagi jenis-jenis yang dilindungi yang bersasal dari habitat alam. Hal ini dikecualikan untuk mendukung pengembangan budidaya peternakan atau perikanan. Untuk menjaga keanekaragaman genetik jenis satwa, penangkaran satwa dilakukan dengan jumlah paling sedikit dua pasang atau bagi jenis-jenis satwa yang poligamous minimal dua ekor jantan. Dan dilakukan dengan menghindari penggunaan induk-induk satwa yang mempunyai hubungan kerabat atau pasangan yang berasal dari satu garius keturunan.

Penandaan dan Sertifikasi
Pelaksana penangkaran wajib melakukan penandaan dan sertifikasi terhadap indukan maupun hasil penangkarannya. Penandaan pada hasil penangkaran merupakan pemberian tanda yang bersifat permanen pada bagian tumbuhan maupun satwa dengan menggunakan teknik tagging/banding, cap (marking), transponder, pemotongan bagian tubuh, tattoo dan label yang mempunyai kode berupa nomor, huruf atau gabungan nomor dan huruf. Penandaan bertujuan untuk membedakan antara induk dengan induk lainnya, antara induk dengan anakan dan antara anakan dengan anakan lainnya serta antara spesimen hasil penangkaran dengan spesimen dari alam. Untuk memudahkan penelusuran asal usul (tracking) spesimen tumbuhan atau satwa, penandaan dilengkapi dengan sertifikat. Bagi jenis-jenis yang karena sifat fisiknya tidak memungkinkan untuk diberi tanda hanya dilakukan pemberian sertifikat. Dalam rangka perdagangan luar negeri, unit penangkaran jenis-jenis Appendix I CITES, yang dilakukan melalui kegiatan pengembangbiakan satwa di dalam lingkungan terkontrol (captive breeding) dan perbanyakan tumbuhan secara buatan dalam kondisi terkontrol (artificial propagation), wajib diregister pada sekretariat CITES. Registrasi hanya dapat diajukan oleh unit penangkaran yang telah memenuhi standar kualifikasi penangkaran.

Posted in Artikel | Tagged: | Leave a Comment »

Lembaga Konservasi

Posted by greenlumut on April 16, 2008

Pengertian
Lembaga Konservasi adalah lembaga yang bergerak di bidang konservasi tumbuhan dan atau satwa liar di luar habitatnya (ex-situ), yang berfungsi untuk pengembangbiakan dan atau penyelamatan tumbuhan dan atau satwa, dengan tetap menjaga kemurnian jenis, guna menjamin kelestarian keberadaan dan pemanfaatannya. Lembaga Konservasi mempunyai fungsi utama pengembangbiakan dan atau penyelamatan tumbuhan dan satwa, dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya. Lembaga Konservasi, juga mempunyai fungsi sebagai tempat pendidikan, peragaan, penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan, sarana perlindungan dan pelestarian jenis, serta sarana rekreasi yang sehat. Pengelolaan Lembaga Konservasi dilakukan berdasarkan etika dan kaidah kesejahteraan satwa.

Bentuk Lembaga Konservasi
Lembaga Konservasi dapat berbentuk :

  1. Kebun Binatang,
  2. Taman Safari,
  3. Taman Satwa,
  4. Taman Satwa Khusus,
  5. Pusat Latihan Satwa Khusus,
  6. Pusat Penyelamatan Satwa,
  7. Pusat Rehabilitasi Satwa,
  8. Museum Zoologi,
  9. Kebun Botani,
  10. Taman Tumbuhan Khusus, dan
  11. Herbarium.

Perizinan
Izin Lembaga Konservasi dapat diberikan kepada :

  1. Lembaga Pemerintah :
    1. Badan Usaha Milik Negara yang bergerak di bidang konservasi,
    2. Badan Usaha Milik Daerah yang bergerak di bidang konservasi,
    3. Lembaga Penelitian yang kegiatannya meliputi penelitian tumbuhan dan satwa, dan
    4. Lembaga Pendidikan Formal.
  2. Lembaga Non Pemerintah :
    1. Koperasi,
    2. Badan Usaha Milik Swasta yang bergerak di bidang konservasi,
    3. Badan Usaha Milik Perorangan yang bergerak di bidang konservasi, dan
    4. Yayasan.

Ijin Lembaga Konservasi adalah izin yang diberikan Oleh Menteri Kehutanan kepada pemohon, yang telah memenuhi syarat-syarat sesuai ketentuan perundang-undangan untuk membentuk Lembaga Konservasi. Izin Lembaga Konservasi tumbuhan dan satwa liar diberikan untuk jangka waktu 30 (tiga puluh) tahun, dan dapat diperpanjang berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan oleh Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA), Departemen Kehutanan. Permohonan izin Lembaga Konservasi diajukan kepada Menteri Kehutanan, dengan tembusan disampaikan kepada : a. Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA), b. Bupati/Wali Kota setempat, c. Kepala BKSDA setempat. Tata cara permohonan izin selengkapnya, disajikan pada halaman selanjutnya.

Perolehan Tumbuhan dan Satwa Liar untuk Lembaga Konservasi
Lembaga Konservasi dapat memperoleh spesimen jenis tumbuhan dan satwa untuk koleksinya, dari :

  1. Hasil sitaan atau penyerahan dari pemerintah atau penyerahan dari masyarakat,
  2. Hibah atau pemberian atau sumbangan dari Lembaga Konservasi lainnya,
  3. Tukar menukar,
  4. Pembelian untuk jenis-jenis yang tidak dilindungi,
  5. Pengambilan atau penangkapan dari alam.

Pengambilan atau penangkapan dari alam dapat dilakukan apabila :

  1. Untuk k epentingan pemurnian genetik, dan atau,
  2. Untuk kepentingan penyelamatan jenis, dan atau,
  3. Tidak dapat memperoleh jenis dari sumber sebagaimana dimaksud pada butir 1, 2, 3, dan 4 tersebut diatas.

Bagi pemohon Lembaga Konservasi yang telah mempunyai koleksi satwa sebelum diterbitkan izin Lembaga Konservasi, harus dapat menunjukkan surat keterangan asal-usul satwa secara sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Hak dan Kewajiban
Lembaga Konsrevasi tumbuhan dan satwa berhak untuk :

  1. Memperoleh jenis tumbuhan dan satwa,
  2. Memanfaatkan hasil perkembangbiakan tumbuhan dan satwa sesuai ketentuan yang berlaku,
  3. Bekerjasama dengan Lembaga Konservasi lain di dalam atau di luar negeri, antara lain untuk : pengembangan ilmu pengetahuan, tukar menukar jenis tumbuhan dan satwa, peragaan, dan pengembangbiakan sesuai ketentuan yang berlaku,
  4. Memperagakan jenis tumbuhan dan satwa di dalam areal pengelolaannya,
  5. Memperoleh manfaat hasil penelitian jenis tumbuhan dan satwa,
  6. Menerima imbalan jasa atas kegiatan usahanya.

Sedangkan kewajiban Lembaga Konservasi tumbuhan dan satwa adalah :

  1. Membuat Rencana Karya Pengelolaan (RKP) dalam jangka waktu 1 (satu) tahun sejak diterimanya izin,
  2. Membuat Rencana Karya Lima Tahun (RKL) Pengelolaan,
  3. Membuat Rencana Karya Tahunan (RKT) Pengelolaan,
  4. Melakukan penandaan atau sertifikasi terhadap spesimen koleksi tumbuhan dan satwa yang dipelihara,
  5. Membuat buku daftar silsilah (studbook) masing-masing jenis satwa yang hidup,
  6. Mengelola (memelihara, merawat, memperbanyak tumbuhan dan mengembangkan jenis satwa) sesuai dengan etika dan kesejahteraan satwa,
  7. Melakukan upaya penyelamatan tumbuhan dan satwa,
  8. Memperkerjakan tenaga ahli sesuai dengan bidangnya,
  9. Memberdayakan masyarakat setempat,
  10. Melakukan pencegahan dan penularan penyakit,
  11. Melakukan upaya pengamanan dan menjaga keselamatan pengunjung, petugas, serta tumbuhan dan satwa,
  12. Membuat dan menyampaikan laporan triwulan dan tahunan mengenai perkembangan pengelolaan tumbuhan dan satwa kepada Direktur Jenderal PHKA dengan tembusan Kepala BKSDA setempat,
  13. Membayar pungutan penerimaan negara bukan pajak sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Ketentuan Larangan
Setiap Lembaga Konservasi dilarang :

  1. Memindahtangankan Izin Lembaga Konservasi kepada pihak lain tanpa persetujuan Menteri Kehutanan,
  2. Memperjualbelikan tumbuhan san satwa dilindungi yang nerupakan koleksi,
  3. Melakukan pertukaran tumbuhan dan satwa dilindungi tanpa izin,
  4. Melakukan persilangan antar jenis tumbuhan dan satwa yang menjadi koleksinya,
  5. Melakukan perkawinan satwa dalam satu kekerabatan (inbreeding),
  6. Memperagakan satwa yang sedang bunting atau sakit,
  7. Memperagakan satwa yang tidak sesuai dengan etika dan kesejahteraan satwa.

Pembinaan dan Evaluasi
Pembinaan terhadap Lembaga Konservasi dilakukan oleh Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA), Departemen Kehutanan, dan di lapangan dilakukan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat. Pembinaan dilakukan terhadap aspek teknis, administrasi, dan pemanfaatan tumbuhan dan satwa koleksi yang dipelihara. Aspek teknis meliputi : koleksi, penandaan, pemeliharaan, pengembangbiakan, penyelamatan, penajarangan tumbuhan dan mutasi satwa, sarana prasarana pengelolaan tumbuhan dan satwa. Aspek administrasi meliputi : perizinan, pendataan koleksi, studbook, pelaporan pengelolaan tumbuhan dan satwa, kerjasama kemitraan. Aspek pemanfaatan meliputi : peragaan, tukar-menukar, pengembangbiakan, pelepasliaran, penelitian dan pendidikan. Evaluasi terhadap Lembaga Konservasi dilakukan oleh Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA), Departemen Kehutanan. Evaluasi dilakukan sekurang-kurangnya satu kali dalam satu tahun. Di lapangan evaluasi dilaksanakan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat. Evaluasi dilakukan terhadap seluruh aspek kegiatan pengelolaan, baik teknis, administrasi, dan pemanfaatan tumbuhan dan satwa.

Posted in Artikel | Tagged: | Leave a Comment »

PENDIDIKAN KONSERVASI

Posted by greenlumut on April 11, 2008

Ketika kita bertanya kepada pelaku illegal loging, apakah mereka sadar bahaya pencurian kayu? Atau cobalah wawancara dengan para perusak Hutan Mangrove, apakah mereka tahu apa fungsi Hutan Mangrove dalam mencegah bahaya abrasi dan tsunami ? Cobalah kita simak data laju pengurangan hutan di Indonesia yang mencapai 3,8 juta ha/tahun atau setara 6 kali lapangan sepakbola/menit dengan total kerusakan hutan 59,62 juta hektar dari 120,34 juta hektar luas hutan Indonesia. Salah satunya diantaranya adalah Hutan Mangrove yang hanya tinggal 25 % saja dari luas 3,6 juta Ha. Semua orang tahu konservasi, semua orang mengerti manfaat Hutan Mangrove, semua orang sadar akibat alam rusak, tapi dia akan tetap merusak karena dia hanya memiliki pengetahuan tidak memiliki jiwa conservationist. Tanpa gelar sarjana pun, manusia akan ikhlas untuk melestarikan bumi ini beserta isinya. Cobalah kita lihat bagaimana suku Anak Dalam di Jambi atau Suku Badui di Banten yang memiliki kearifan dan keikhlasan dalam melestarikan dan menjaga keseimbangan alam ini, karena jiwa mereka sudah menyatu dengan alam, setiap hari mereka bersentuhan dan bergaul dengan hutan dan alam sekitar. Mungkin demikian pula halnya dengan kita yang memiliki pengalaman bergaul bersama alam, ketika alam memberikan kasih sayangnya pada kita, atau ketika alam harus marah karena dirinya telah dirusak.

Harus diakui bahwa keanekaragaman hayati sedang terancam kelestariannya, sehingga diperlukan upaya-upaya yang sangat mendasar menyentuh jiwa setiap masyarakat akan pentingnya pelestarian lingkungan bagi keberlanjutan kehidupan, salah satunya melalui pendidikan konservasi.
Pendidikan konservasi haruslah dimulai sejak dini dan dapat dilaksanakan di lingkungan rumah secara non formal. Sejak kecil anak dididik untuk menanam, menyirami dan memeliharanya. Perkenalkan mereka dengan alam sebagai lingkungan yang ramah. Secara formal, pendidikan konservasi harus dapat menyentuh semua level pendidikan mulai dari TK, SD, SMP, SMU dan Perfasilitatoran Tinggi. Hal ini untuk membentuk dan memelihara jiwa conservationist dalam diri setiap anak agar benar-benar menjadi generasi yang cinta lingkungan. Dan menjadi kewajiban bagi kita semua untuk melaksanakan hal tersebut karena setiap diri kita adalah fasilitator bagi orang lain. Jiwa Konservationist dan pengalaman kita bergaul dengan alam kiranya dapat dibagikan dan diwariskan kepada adik-adik kita. Sehingga akan muncul generasi-generasi conservationist yang akan menjadi pahlawan penyelamat lingkungan.
Apa Prinsip Dasar Pelestarian Alam ?……………………………………………………….
Dimensi utamanya adalah manusia. Manusia merupakan unsur utama dari alam semesta ini yang harus sangat bertanggungjawab atas segala degradasi alam yang sekarang terjadi, karena manusia adalah sebagai pengguna, perusak, dan akhirnya harus menjadi pelestari alam ini.
Pelestarian lingkungan dan prinsip kemampuan harus saling mendukung. Upaya pelestarian yang dilakukan harus spesifik lokal dengan mempertimbangkan kemampuan sumber daya yang dimiliki (SDA & SDM) dengan semboyan “berpikir global, bertindak lokal”.
Pencegahan lebih baik dari pada perbaikan. Biaya finansial dan sosial yang dikeluarkan untuk merehabilitasi alam yang telah rusak lebih besar dibanding dengan melakukan pemeliharaan/pencegahan.
Keterpaduan. Pelestarian alam harus dilaksanakan oleh seluruh elemen masyarakat untuk seluruh masyarakat.
Penegakan supremasi hukum. Pelaku perusak alam harus dihukum untuk mengembalikan alam yang lestari.
Apa Prinsip Dasar Pendidikan Konservasi ?…………………………………………………..
Pendidikan Konservasi bekerja secara menyeluruh. Apa yang secara keseluruhan diketahui/diterima secara terpadu akan lebih tersimpan dalam ingatan.
Pendidikan Konservasi diterapkan sesuai situasi. Penyusunan perencanaan materi Pendidikan Konservasi harus memperhatikan 3 aspek yaitu : (1) Situasi belajar harus menyentuh perasaan anak karena akan lebih membangkitkan motivasinya, (2) Situasi belajar harus dapat memahami kenyataan yang dialami karena rasa ingin tahu anak yang alami merangsang untuk mengungkapkan, (3) Situasi belajar harus bisa membentuk pengalaman yang positif bagi anak karena dapat merangsang kemandirian pada anak untuk melakukan hal yang sama dalam situasi dan tempat yang berbeda.
Pendidikan Konservasi menuntut tindakan. Kita hanya akan mendapatkan 20 % dari apa yang kita dengar, sedangkan disisi lain kita dapat menyimpan 90 % kesan yang diperoleh secara mandiri melalui “learning by doing”.
Apa Tujuan Pendidikan Konservasi ?…………………………………………………………
Pendidikan Konservasi bertujuan untuk membentuk jiwa konservasionis yang memiliki sikap sadar terhadap lingkungannya. Sadar lingkungan diartikan sebagai bagian dari kesadaran diri yang bertumpu pada terbentuknya hubungan positif antara individu dengan lingkungan alam, sosial dan lingkungan yang telah terbentuk dengan memperhatikan keteraturan ekologi.
Bagaimana Mencapai Tujuan Pendidikan Konservasi ?…………………………………………
Sasaran Pendidikan Konservasi adalah membentuk jiwa konservasionis yang memiliki sikap sadar terhadap lingkungan. Oleh karena itu Pendidikan Konservasi harus memperhatikan aspek – aspek :
Aspek pertama : pengetahuan dan keterampilan. Pendidikan Konservasi memberikan pengetahuan untuk menggali dan memberikan : Aspek utama Pendidikan Konservasi adalah mengubah pola pikir dan sikap individu terhadap lingkungan baik lingkungan fisik yaitu alam dan mahkluk hidup lainya, maupun lingkungan sosial yaitu sikap terhadap orang – orang yang ada di sekitarnya. Anak harus mengenal alam ini sebagai lingkungan yang ramah.
Aspek kedua : menyentuh keyakinan. Keyakinan merupakan bentuk sikap sadar sasaran terhadap lingkungan. Hal ini dapat di tempuh dengan membangkitkan motivasi sasaran untuk memperbaiki kualitas kehidupan dan memelihara keberlanjutanya.
Aspek ketiga : timbulnya tindakan pelestarian lingkungan. Dengan munculnya tindakan dalam melestarikan lingkungan yang dilakukan secara sadar ini merupakan bentuk kepedulian dan komitmen terhadap lestarinya alam ini.

Posted in Artikel | Tagged: | 4 Comments »

Manfaat Hutan

Posted by greenlumut on April 10, 2008

PENGHIJAUAN adalah salah satu kegiatan penting yang harus dilaksanakan secara konseptual dalam menangani krisis lingkungan. Begitu pentingnya sehingga penghijauan sudah merupakan program nasional yang dilaksanakan di seluruh Indonesia.

Banyak fakta yang menunjukkan bahwa tidak jarang pembangunan dibangun di lahan pertanian maupun ruang terbuka hijau. Padahal tumbuhan dalam ekosistem berperan sebagai produsen pertama yang mengubah energi surya menjadi energi potensial untuk makhluk lainnya dan mengubah CO2 menjadi O2 dalam proses fotosintesis. Sehingga dengan meningkatkan penghijauan di perkotaan berarti dapat mengurangi CO2 atau polutan lainnya yang berperan terjadinya efek rumah kaca atau gangguan iklim. Di samping vegetasi berperan dalam kehidupan dan kesehatan lingkungan secara fisik, juga berperan estetika serta kesehatan jiwa. Mengingat pentingnya peranan vegetasi ini terutama di perkotaan untuk menangani krisis lingkungan maka diperlukan perencanaan dan penanaman vegetasi untuk penghijauan secara konseptual.

Dari berbagai pengamatan dan penelitian ada kecenderungan bahwa pelaksanaan penghijauan belum konseptual, malah terkesan asal jadi. Memilih jenis tanaman dengan alasan mudah diperoleh, murah harganya dan cepat tumbuh.

Penghijauan perkotaan

Penghijauan dalam arti luas adalah segala daya untuk memulihkan, memelihara dan meningkatkan kondisi lahan agar dapat berproduksi dan berfungsi secara optimal, baik sebagai pengatur tata air atau pelindung lingkungan. Ada pula yang mengatakan bahwa penghijauan kota adalah suatu usaha untuk menghijaukan kota dengan melaksanakan pengelolaan taman-taman kota, taman-taman lingkungan, jalur hijau dan sebagainya. Dalam hal ini penghijauan perkotaan merupakan kegiatan pengisian ruang terbuka di perkotaan.

Pada proses fotosintesa tumbuhan hijau mengambil CO2 dan mengeluarkan C6H12O6 serta peranan O2 yang sangat dibutuhkan makhluk hidup. Oleh karena itu, peranan tumbuhan hijau sangat diperlukan untuk menjaring CO2 dan melepas O2 kembali ke udara. Di samping itu berbagai proses metabolisme tumbuhan hijau dapat memberikan berbagai fungsi untuk kebutuhan makhluk hidup yang dapat meningkatkan kualitas lingkungan.

Setiap tahun tumbuh-tumbuhan di bumi ini mempersenyawakan sekira 150.000 juta ton CO2 dan 25.000 juta ton hidrogen dengan membebaskan 400.000 juta ton oksigen ke atmosfer, serta menghasilkan 450.000 juta ton zat-zat organik. Setiap jam 1 ha daun-daun hijau menyerap 8 kg CO2 yang ekuivalen dengan CO2 yang diembuskan oleh napas manusia sekira 200 orang dalam waktu yang sama. Setiap pohon yang ditanam mempunyai kapasitas mendinginkan udara sama dengan rata-rata 5 pendingin udara (AC), yang dioperasikan 20 jam terus menerus setiap harinya. Setiap 93 m2 pepohonan mampu menyerap kebisingan suara sebesar 8 desibel, dan setiap 1 ha pepohonan mampu menetralkan CO2 yang dikeluarkan 20 kendaraan.(Zoer’aini Djamal Irwan,1996).

Begitu pentingnya peranan tumbuhan di bumi ini dalam menangani krisis lingkungan terutama di perkotaan, sangat tepat jika keberadaan tumbuhan mendapat perhatian serius dalam pelaksanaan penghijauan perkotaan sebagai unsur hutan kota.

Penghijauan berperan dan berfungsi (1) Sebagai paru-paru kota. Tanaman sebagai elemen hijau, pada pertumbuhannya menghasilkan zat asam (O2) yang sangat diperlukan bagi makhluk hidup untuk pernapasan; (2) Sebagai pengatur lingkungan (mikro), vegetasi akan menimbulkan hawa lingkungan setempat menjadi sejuk, nyaman dan segar; (3) Pencipta lingkungan hidup (ekologis); (4) Penyeimbangan alam (adaphis) merupakan pembentukan tempat-tempat hidup alam bagi satwa yang hidup di sekitarnya; (5) Perlindungan (protektif), terhadap kondisi fisik alami sekitarnya (angin kencang, terik matahari, gas atau debu-debu); (6) Keindahan (estetika); (7) Kesehatan (hygiene); (8) Rekreasi dan pendidikan (edukatif); (9) Sosial politik ekonomi.

Seperti yang dikemukan oleh Eckbo (1956) bahwa pemilihan jenis tanaman untuk penghijauan agar tumbuh dengan baik hendaknya dipertimbangkan syarat-syarat hortikultura (ekologikal) dan syarat- syarat fisik. Syarat hortikultural yaitu respons dan toleransi terhadap temperatur, kebutuhan air, kebutuhan dan toleransi terhadap cahaya matahari, kebutuhan tanah, hama dan penyakit, serta syarat-syarat fisik lainnya yaitu tujuan penghijauan, persyaratan budi daya, bentuk tajuk, warna, aroma.

Unsur hutan kota

Fungsi dan manfaat hutan antara lain untuk memberikan hasil, pencagaran flora dan fauna, pengendalian air tanah dan erosi, ameliorasi iklim. Jika hutan tersebut berada di dalam kota fungsi dan manfaat hutan antara lain menciptakan iklim mikro, engineering, arsitektural, estetika, modifikasi suhu, peresapan air hujan, perlindungan angin dan udara, pengendalian polusi udara, pengelolaan limbah dan memperkecil pantulan sinar matahari, pengendalian erosi tanah, mengurangi aliran permukaan, mengikat tanah. Konstruksi vegetasi dapat mengatur keseimbangan air dengan cara intersepsi, infiltrasi, evaporasi dan transpirasi.

Menelaah fungsi penghijauan perkotaan dan fungsi hutan dapat dikatakan bahwa penghijauan perkotaan merupakan unsur dari hutan kota. Sedangkan hutan kota adalah bagian dari ruang terbuka hijau kota. Hutan kota (urban forestry) menurut Grey dan Denehe (1978), meliputi semua vegetasi berkayu di dalam lingkungan pemukiman, mulai dari kampung yang kecil sampai kota besar. Fukuara dkk. (1988) mengemukakan tentang hutan kota, yaitu ruang terbuka yang ditumbuhi vegetasi berkayu di wilayah perkotaan yang memberikan manfaat lingkungan sebesar-besarnya kepada penduduk kota dalam kegunaan proteksi, estetika serta rekreasi khusus lainnya.

Sedangkan menurut Grey dan Denehe (1978), hutan kota (urban forestry) meliputi semua vegetasi berkayu di dalam lingkungan pemukiman, mulai dari kampung yang kecil sampai kota besar. Mengingat pekarangan mengandung sifat perhutanan yang beraspirasi untuk kepentingan rakyat, maka pengembangan perhutanan yang bersifat pekarangan ini tampaknya lebih demokrasi yaitu sistem agroforestry yang dikelola rakyat. Pekarangan dapat menghasilkan kayu, bambu, karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan obat-obatan.

Sebagai konsekuensi tumbuhan sebagai produsen pertama dalam ekosistem, dan mengingat fungsi hutan kota dan fungsi penghijauan perkotaan sangat bergantung kepada vegetasi yang digunakan maka tidak perlu lagi dipersoalkan luas lahan sebagai syarat hutan kota. Yang penting adalah jumlah dan keanekaragaman vegetasi yang ditaman di perkotaan sebanyak mungkin. Dengan demikian penghijauan perkotaan sebagai unsur hutan kota perlu ditingkatkan secara konseptual meliputi perencanaan, pelaksanaan dan pemeliharaan dengan mempertimbangkan aspek estetika, pelestarian lingkungan dan fungsional. Pelaksanaan harus sesuai dengan perencanaan begitu pula pemeliharaan harus dilakukan secara terus-menerus.

Teknik penanaman

Faktor-faktor utama yang perlu diperhatikan yaitu dalam teknik penanaman pohon adala, (1) Pemilihan bibit tanaman. Bibit generatif adalah berasal dari biji, merupakan bibit yang lebih tepat karena mempunyai akar tunggang dan dapat hidup lebih lama. Bibit vegetatif, adalah bibit yang berasal dari bagian-bagian vegetatif tanaman, seperti batang, daun dan akar. Bibit vegetatif umumnya kurang kokoh dan perakarannya dangkal sehingga cepat merusak trotoar, jalan atau saluran drainase.

Bibit yang baik sekurang-kurangnya telah tumbuh di wadahnya selama 6 bulan dengan batang tinggi minimal + 1.50 m dan diameter 0.05 m, untuk mengujinya cukup dengan mencabut bibit tersebut. Apabila bibit mudah lepas dari wadahnya berarti baru dipindahkan dan belum cukup baik ditanam di lapangan, sebaliknya jika sulit dilepaskan berarti perakarannya sudah terbentuk dengan baik dan dapat ditanam di lapangan;

(2) Penanaman. Lubang tanam perlu dipersiapkan sedikitnya satu minggu sebelum penanaman dilakukan. Ukuran lubang tanam sangat bergantung pada besarnya tanaman. Ukuran standar lubang tanam adalah 0.75 m (tinggi) x 0.90 m (lebar) x 0.90 m (panjang); (3) Perawatan pascatanam. Mempertahankan posisi tumbuh agar tetap tegak dan stabil. Menyiram tanaman 2-3 hari sekali terutama di musim kemarau sambil membuang ranting-ranting yang kerimg. Memupuk tanaman 3 bulan sekali dengan pupuk NPK 25 gram per lubang

Manfaat hutan yang lain adalah:

1. Sebagai suplyer Oksigen yang merupakan bahan baku utama untuk pernafasan manusia

2. Sebagai pencegah banjir

3. Sebagai penyejuk alam

4. Sebagai paru-paru dunia

masih banyak lagi manfaat hutan bagi manusia yang lain.

Posted in Artikel | Tagged: , | 2 Comments »

Sekjen PBB Minta Dunia Perhatikan Global Warming

Posted by greenlumut on April 10, 2008

Markas Besar PBB, New York (ANTARA News) – Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon meminta negara-negara anggota PBB untuk secara serentak memberikan perhatian terhadap pemanasan global (global warming), industrialisasi, polusi udara serta perlunya mendorong pasokan energi tanpa polusi bagi negara-negara berkembang.

Sementara itu, di tempat terpisah, Direktur Eksekutif UN-Habitat, Anna Tibaijuka mengungkapkan bahwa gas rumah kaca yang telah dihasilkan oleh perkotaan telah mencapai 60 persen dan bahwa banyak kota di berbagai belahan dunia rentan terhadap ancaman akibat perubahan iklim dunia.

Permintaan agar dunia bertindak secara serentak disampaikan Ban Ki-moon ketika membuka pertemuan para menteri lingkungan hidup dengan topik “Mengubah Komitmen Menjadi Aksi, Bekerja Sama dalam Kemitraan”, di Markas Besar PBB, New York, Rabu.

“Energi, perubahan iklim, pembangunan industri dan polusi udara merupakan masalah-masalah kritis yang menjadi agenda internasional. Memberikan perhatian terhadap masalah tersebut secara bersama-sama berarti menciptakan kesempatan untuk sama-sama mendapat kebaikan, juga ini penting bagi pembangunan berkelanjutan,” kata Ban.

Pertemuan tersebut menghadirkan 27 pembicara, termasuk pejabat setingkat menteri, dari berbagai negara dan berlangsung pada 30 April hingga 11 Mei 2007.

Para menteri yang hadir antara lain dari Belanda, Jerman, Finlandia, Swedia, Ialia, Kroasia, Korea Selatan, Thailand, Pakistan, Mesir, Senegal dan Botswana.

Di bidang energi, Ban mencatat bahwa masyarakat dunia yang masih belum mendapatkan akses listrik berjumlah 1,6 miliar orang, sementara mereka yang tidak memiliki pasokan energi modern untuk memasak dan pemanas ruangan mencapai 2,4 miliar orang.

“Kita harus melakukan langkah lebih banyak lagi dalam menggunakan dan mengembangkan sumber-sumber energi yang bisa diperbaharui,” kata Ban.

Sementara itu, Direktur Eksekutif UN-HABITAT dalam jumpa pers di Markas Besar PBB, New York, Kamis, mengungkapkan bahwa hampir 1/3 masyarakat miskin di perkotaan adalah pihak yang menjadi korban dari pemanasan global sementara 60 persen gas rumah kaca dihasilkan di perkotaan.

Tibaijuka juga mengingatkan bahwa banyak kota di dunia yang rentan terhadap meningginya tingkat permukaan laut serta ancaman bencana lainnya yang ditimbulkan oleh pemanasan global.

UN-Habitat (UN Human Settlements Programme) mencatat bahwa di banyak kota di berbagai belahan dunia –terutama di negara-negara berkembang, penduduk wilayah miskin dan kotor di perkotaan jumlahnya mencapai 50 prosen dari populasi yang ada dan mereka kurang mendapatkan akses tempat tinggal, air bersih, fasilitas kebersihan, pendidikan ataupun pelayanan kesehatan.

Menurut UN-Habitat, penduduk miskin perkotaan di seluruh dunia yang jumlahnya mencapai satu miliar orang, adalah pihak yang paling rentan menjadi korban saat bencana datang.

Mereka kebanyakan tinggal di daerah-daerah yang justru dihindari banyak orang, seperti di sekitar pantai yang rawan banjir seperti di Dhaka (Bangladesh), di dekat pangkalan udara atau air seperti Hong Kong dan Tbilisi (Georgia) serta di daerah yang terpolusi atau rawan gempa –wilayah yang akan langsung hancur jika gempa terjadi– seperti di Yerevan, Armenia. (*)

Posted in Global News | Tagged: , | 1 Comment »